Adib Abadi

Writer and Small Business Owner in Lubuklinggau

Read my blog

Tentang DIA

"Dia bilang padaku, dengan menyusun kata seperti ini, adalah salah satu caranya belajar untuk menjadi manusia."

DIA adalah ayah dari seorang anak laki-laki yang lucu, lincah, cerdas, yang kadang-kadang juga nakal - suami dari satu istri. Ia juga menikmati seni, jalan-jalan, main PS2: spesialis wining eleven, namun diatas segalanya, ayah muda ini mencitai kata-kata.

Dia bilang padaku, dengan menyusun kata seperti ini, adalah salah satu caranya belajar untuk menjadi manusia. Bersenang-senang dengan menuliskan yang entah apa adalah cara dia mensyukuri remah kehidupan.

Penggemar kopi nusantara, tempe mendoan, nasi sate, petai, juga rendang. Banyumas adalah tempat dimana ia menghabiskan masa remaja. Pernah nyantri di STAIN Purwokerto, sekarang IAIN.

Kini dia perantau - Desa Kali Bening, daerah Merasi, begitu orang mengenal daerah ini. Merasi: ujaran mereka untuk daerah transmigrasi tahun 1940-an. Terletak di kabupaten Musi Rawas. Begitulah, baginya, Musi Rawas, adalah geliat kota yang sedang mencari bentuk idealnya juga tempatnya memilin asa keluarga kecilnya.

Dia bukanlah sosok Perantau seperti tokoh-tokoh inspiratif dalam cerita yang beranjak dari premis from zero to hero. Tidak mirip sama sekali dengan cerita orang biasa yang tiba-tiba menjadi luar biasa khas talkshow motivasi. Pergulatan hidupnya biasa saja, dengan tujuan hidup yang juga biasa-biasa saja.

Waktu luangnya sering dihabiskan dengan membaca, menulis, nge-game dan aktifitas tidak penting lain. Dia menganggap dirinya seorang seniman, penulis partikelir + lebih bangga jika dirinya disebut sebagai seorang tukang daripada 'Pak Guru'. Jalan rantau yang dipilih bukanlah berharap epos kemenangan, hanya sekedar berharap bisa terhindar dari kekalahan.

Anggaplah begitu, walaupun sebenarnya tidak.

Sebagai seorang capricorn yang dilahirkan untuk menyimpan rahasia, aku bisa apa?

Aku kemudian bertanya padanya, "Apa yang kau harapkan dari menulis?"

Diam. Kulihat dia meluruskan kakinya, lalu menghirup udara Merasi dalam-dalam sembari sesekali menghembuskan asap rokok yang disusul tarikan nafas panjang. Lalu dia pergi tidur. Aku melihat matanya terpejam, tapi aku tahu dia tidak tidur. Ah, begitulah dia.......

Aku.

  • Work
    • Kuli Kunci and Walder