aditya yuli wardana

yogyakarta

aditya yuli wardana

yogyakarta

I have Story for you...

Bantul..tepat tanggal 8 Juli 1988 bayi mungil 2,2 kg dilahirkan kedunia. Dan dengan Berkat Tuhan Ibu dan bayi itu selamat. Bayi tanpa dosa itu telah menambah padatnya penduduk jogja. Bayi itu lahir sebelum saatnya, dengan kata lain lahir dalam keadaan premature. 7 bulan dalam kandungan seorang ibu itu sudah tidak sabar untuk segera melihat dunia. Bayi yang terlalu kecil itu langsung dilarikan ke RS Sardjito untuk di inkubator.
25 hari dirumah sakit dengan tabung, sudah cukup untuk menguatkan tulang-tulang kecil itu. Bayi itu pun segera bisa merasakan kejamnya dunia, panasnya matahari, bisingnya jalanan, udara kotor berterbangan, bau sampah-sampah yang menumpuk, dan akhirnya kelak akan tau bahwa lahir didunia tanpa seorang ayah yang menemaninya. Ayah...? bayi itu tidak mengenal ayah, pergi meninggalkan ibunya, cerai gara2 ayahnya selingkuh. Kasihan banget bayi itu, lahir dengan kekejaman keadaan rumah tangga yang hancur.
Untuk bertahan menjadi bayi yang bisa tumbuh besar tanpa kekejaman dunia, bayi itu dititipkan kepada neneknya di kampung di daerah wonosari yang beribukotakan Gunungkidul. Gunungkidul, sebuah kabupaten yang jarang penduduknya pada Tahun itu, dengan penduduk yang slalu berkelompok, saling gotong royong. Dengan wisata yang tidak kalah dengan kota-kota lain, tumbuh-tumbuhan yang masih lebat, binatang liar yang masih banyak berkeliaran. Itu semua adalah sekitar tempat bayi yang nantinya akan Tumbuh menjadi besar.
Hari demi hari, bulan demi bulan tlah berlalu, bayi itu semakin menunjukan badannya yang mulai berisi, mulai padat, mulai berat, dan mulai kuat serta mulai bisa bicara.n
Dengan keadaan ekonomi yang rendah, ibunya bertekad mencari sesuap nasi di kota, demi untuk menghidupi keluarga dan membeli susu. Seminggu sekali pulang ke kampung halaman membawa susu dan beberapa lembar uang diserahkan kepada neneknya untuk bertahan hidup sampai seminggu selanjutnya. Rutinitas yang slalu sama itu berlanjut sampai bayi itu beranjak dewasa.
Sekolah Dasar Candi III tempat pertama untuk mencari ilmu, pada saat itu sekitar tahun 1994 belum ada Paud atau TK, anak itu mencari ilmu di desa seberang, berjarak 2 km dari rumah dan di tempuh setiap hari. Beranjak kelas 4 ibunya membelikan Sepeda, dan mulai terasa ringan dengan beban buku yang dibawa..

bersambung ke myblog

  • Work
    • ahass gama motor