Andi Muhammad Azwar Anas Umar

Namasaya Andi Muhammad Azwar Anas Umar, saya lahir di pangkep, 14 Mei 1996, sayabungsu dari 3 bersaudara, ayah saya AndiAnas Umar (Almarhum) dan ibu saya Makkatenni Wellang, dulunya ayah saya seorangpengajar disalah satu universitas negeri, sambilan sebagai meubeler, istilah keren dari tukang kayu, dan ibu saya jugapengajar di universitas yang sama dengan ayah saya, sekaligus menjadi orang tuatunggal atas 3 anak anaknya yang berbakti (amin) ayah saya meniggal ketika sayamasih berumur 9 tahun, kala itu saya masih duduk di kelas 3 sekolah dasar, dipangkep tentunya, masih teringat waktu itu, saya terlambat pulang kerumahkarena diajak bermain kelereng dengan teman kelas saya, hari itu saya menangbanyak, tumben tumbennya saya dappu’ (memiliki akurasi tinggi), tepat setelahadzan ashar, terdengar bunyi sepeda motor dari kejauhan memasuki halamanbelakang sekolahku, tempat aku bermain kelereng bersama temanku, dari kejauhanpula aku melihat pak anshar, pegawai meubel ayahku, tanpa kata kata ia hanyamelambaikan tangan mengajakku pulang, sesampainya dirumah terlihat berbedasuasana lorong gang asoka, agak sedikit ramai dari biasanya, terlebih di depanrumahku, ada pula tenda yang berdiri menambah rasa penasaranku, setibanya didepan rumah ku, terlihat om,tante,sepupu,nenek, dan seluruh penduduk lorongberkumpul di depan dengan wajah lesu, ternyata tepat sejam yang lalu, ayah sayaberpulang, sebagai anak ingusan umur 9 tahun saya tentu belum tahu apamaksudnya MENINGGAL, setahuku, ayah saya sedang dirawat di rumah sakit wahidin,semenjak 4 tahun lalu saya mulai kesulitan bertemu dengannya, dikarenakanterapi dan pengobatan rutin yang harus beliau jalani, serta kondisinya yangkian memburuk hari demi hari, bukannya aku tak mengenalnya, tapi jika disbandingsaudaraku yang lain, sayalah yang paling jarang bertemu dengannya, kembali kelokasi, dengan santai saya menaiki tangga rumah, memasuki kamar dan mencaritanteku,Nurhana,Adik dari ibuku, orang yang paling berjasa merawatku sejak ayahku masuk rumah sakit 4 tahun lalu kala itu, katanya ibu dan keluarga di Makassarbersama iring iringan jenazah ayahku sudah ada di perjalanan, jujur, kala itusaya masih bingung dengan semuanya, sampai sampai saya masih menyempatkan diriuntuk kedapur mencari makan, selang beberapa saat, bunyi sirene ambulansterdengar memasuki lorong, beriring isaktangis yang makin riuh, jenazah ayah saya dinaikkan ke atas rumah, disitulahsaya baru mengerti kalau saya tak akan bisa lagi berinteraksi dengan ayah saya,saya