Zulmi Arief Kurniando

"Titip Ade Yaa Mas,, Kamu Harus Bisa Mandiri dan Jangan Nakal,. Kamu Harus Bisa Jadi panutan Buat Adikmu,,, Kamu Juga Harus Selalu BerHusnuzon kepada Gusti Allah SWT bahwa apapun yang akan terjadi Nanti dengan kamu dan adikmu adalah Hal Yang Paling Terbaik Yang Allah pilihkan Buatmu dan adikmu... Tetep Semangat Dan Optimis Yaa Mas, walaupun Nanti udah ga' ada yang menyupport kamu lagi.."

Begitulah Pesan Terakhir Yang Diberikan Sang Ibunda Tercintanya Sebelum Beliau Wafat. Pesan Tersebut Pula Yang Membuatnya Kini Tetap Bertahan Ditengah Kerasnya Badai Arus Zaman. Memang Berat Baginya Ditinggalkan Sang Pelita Hidupnya Di Usia Yang Masih Sangat Membutuhkan Kasih Sayang Dan Semangat Dari Sang Ibunda. Terlebih Selisih Beberapa Tahun Setelah Ibundanya Wafat, Ayahandanya Pun Menyusul Ke Khariba'annya Juga.

Anak pertama dari dua bersaudara ini sadar bahwa bebannya berat sebagai panutan bagi adiknya. Mengakui diri sebagai pembelajar sejati, sehingga menumbuhkan mental pejuang yang selalu dipupuknya. Adalah Zulmi Arief Kurniando atau yang Lebih Kerap Disapa Nando atau Arie ini yang sekarang Mulai Belajar mendewasakan Dirinya. Berubah dari dahulu sosok yang manja menjadi pekerja keras. Diusianya yang Terhitung ABG ini, ia harus melupakan segala kesenangan akan masa remaja yang selalu cenderung berfoya-foya dan harus tetap fokus mengejar cita-citanya walaupun belakangan harus tergopoh-gopoh untuk meraihnya.

Berawal Dari Kesenangannya Akan Dunia Kuliner Yang Diturunkan Oleh Kedua Orang Tuanyalah yang membuat ia Nekat Menekuni Dunia Dapur. Tak Terhitung berapa posisi kitchen staff telah ia rasakan diberbagai restoran walaupun ia harus kerap kali keluar masuk menjadi karyawan di restoran yang berbeda-beda. Meskipun Kini Ia Telah Membuka Kedai Sendiri Dan Menjadi Executive Chef Di Kedainya, Ia Tak Sungkan Pula untuk Menjadi Chef Part Time Di Salah satu Restoran Yang Pernah Mempekerjakannya Dahulu.

Selain Itu Ia Juga Kerapkali Berkelana sebagai Backpacker. Kesenangannya akan Backpacking telah mengubah hidupnya secara besar-besaran, dari seekor kutu buku tak berguna menjadi seorang musafir yang tahan banting. Perjalanan mengajarkan kepadanya tentang warna-warni hidup, ragam-ragam budaya dan manusia, serta memaparkan kepadanya bahwa dunia ini tidak seindah apa yang di impikan. Terlalu banyak hal yang bisa ditemukan dan renungkan, dan hidup ini cantik sekaligus buruk rupa, bahagia sekaligus muram, berwarna sekaligus kelabu.