Donny Fajar Ramadhan

Indonesia

Dia bernama Donny Fajar Ramadhan. Orang-orang memanggilnya dengan Donny, Kangdon, ataupun Bangdon. Pemuda asli Sunda ini lahir pada 28 Maret 1992. 18 tahun masa hidupnya ia jalani di kota hujan, Bogor. Mulai dari TK Pertiwi 2, SD Negeri Polisi 4, SMP Negeri 2, hingga SMA Negeri 2.

Kemudian selepas SMA ia mencoba tantangan baru dengan membuat petualangan di kota lain namun masih dalam lingkup Jawa Barat, yakni Jatinangor - Sumedang. Kota udik yang kecil berbatasan dengan Bandung berdiri sebuah bangunan megah bernama Universitas Padjadjaran, di sanalah ia mengenyam pendidikan tingkat tinggi dengan mengambil konsentrasi dalam bidang Sastra Sunda Fakultas Ilmu Budaya. Alasan simpelnya kalau ada pertanyaan, "ngapain ngambil Sastra Sunda?": karena kecintaannya pada budaya. Dan saat ini ia telah mendapatkan gelar Sarjana Humaniora dan wisuda pada Agustus 2015 lalu dengan Predikat Cumlaude.

Selain menyelesaikan tuntutan amanah dari orang tua agar menjadi anak terakhir harapan keluarga menjadi seorang Sarjana, dia pun tergugah untuk menyelesaikan tuntutan bangsanya agar menjadi pemuda harapan bangsa di masa depan yang diejawantahkan dengan mengikuti berbagai organisasi/kegiatan kemahasiswaan di tingkat kampus. Satu yang menjadi pencapaian terbesarnya saat 2014 adalah beramanah sebagai Presiden Keluarga Mahasiswa Mahasiswa Universitas Padjadjaran

Berorganisasi tentu menjadi hobinya saat ini. Namun, banyak hal lain yang menjadi ketertarikannya seperti membaca, mendengarkan beragam jenis musik, jalan-jalan mengitari Kota Bandung dengan Mio putihnya, dan bersih-bersih kontrakkan.

Cita-citanya setelah lulus Sarjana adalah ingin melanjutkan belajar ke negeri kincir angin, Belanda. Leiden University harapan yang selalu ditaruh tepat 5cm di depan matanya (sesuai kata Donny Dirganthoro dalam novel 5cm-nya) sehingga kehidupan yang lebih baik bukan hanya untuk dirinya, tapi juga keluarga dan bangsa akan terjadi. Karena, "sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain" (HR. Muslim). Kemudian dengan pondasi, "lamun keyeng tangtu pareng" serta juga doa dari semua penjuru yang berdatangan, ia akan meciptakan sejarahnya tersendiri. Amin