Eunike Putri Antingsari

Yogyakarta

Aku adalah seorang anak absurd. Sebenarnya, bukan absurd dalam hal fisik, bukan dalam hal karakter, juga bukan dalam hal kepribadian, tapi lebih menjurus kepada kebiasaan. Berkhayal. Sebenarnya itu kebiasaan yang wajar-wajar saja, kan? Nggak ada oknum yang melarang orang berkhayal, hukum juga tidak. Tapi, dalam kasusku, kapasitasnya yang kurang wajar. (Hehehehe :D)

Dari kecil, aku sudah menjalani kebiasaanku ini. Entah ini memang bawaan orok atau memang sudah suratan, aku juga kurang paham. Tapi, semenjak umur 5 tahun, aku sudah sering mengembangkan khayalanku.

Khayalan pertamaku, aku memposisikan diriku sebagai seorang Profesor. Jadi, aku mencari rekan yang sepadan denganku. Sepupuku, Bonar (nama disamarkan agar tidak merusak hubungan asmara sepupuku kalau-kalau pacarnya membaca cerita ini, karena akan menimbulkan reaksi ILFEELnisme).

Dulu, waktu usia kami 5 tahun, kami memiliki hayalan bahwa kami adalah seorang Profesor yang sedang bereksperimen dengan suatu senyawa yang akan menyembuhkan virus yang saat itu memporak-porandakan dunia kami. Dunia BoPa (Bongkar Pasang, sebuah permainan yang menggunakan orang-orangan dari kertas). Biasanya, BoPa diminati oleh anak perempuan, tapi waktu itu sepupuku mengalami masa pencarian jati dirinya sebagai seorang kesatria. Katanya, dia ingin menghibur Putri, saat ia sedih. Membantu Putri, saat ia kesusahan. Merasakan apa yang dirasakan Putri. Intinya dia ingin menyelami kehidupan Putri. Padahal, di era kita ini ya, Sob, nggak ada yang namanya putri-putrian. Emangnya ini abad pertengahan, apa?(Heloooo… (_ _”)) Tapi, setelah aku telusuri menggunakan teori Humantresno, yang dikemukakan oleh Dr. Phil Mak’kedombyangan, akhirnya aku menemukan suatu fakta lucu di balik ceritanya. Ternyata yang dia maksud “Putri” adalah Putri, kawan sepermainan kami, anak teman orangtua kami, Oom Gun. Padahal di kehidupan nyata mereka seperti Tom and Jerry Kids. Boleh dibilang, nggakpernah akur. Mem

  • Work
    • Student