Ghifari Eka Wibowo
Singapore
Aku lahir, menggengam oksigen dengan terisak dan tersedak kuhirup sekian molekul pertama pada tanggal 16 Juni 1994 di Bandung. Oh, dramatisasi nuansa kelahiranku.
Aku tumbuh layaknya anak pada umumnya, hanya saja aku teramat senang tersenyum :) Kubagi kebahagiaanku bersama dunia untuk menyemai benih perdamaian.
Di usia yang masih sangat belia, 6 bulan lebih tepatnya kutinggalkan kota kelahiranku Bandung dan kubuka jurnal perjalanan baruku di dunia yang berbeda baik secara fisik mau demografis, aku pijakkan kakiku di Makassar.
Harus kuakui, perjalananku di kota ini tak begitu mulus. Namun seperti setiap jalan kerikil yang kau temui dalam penelusuran hidupmu, kau tentu akan tetap melewati jalan itu bukan? Yah begitulah metafora hidupku di kotaAngin Mamiri.
Menjelang 12 tahun, di usia yang cukup dewasa untuk mengambil keputusan dan bagi kebanyakan orang masih terlalu belia untuk memilih jalan hidupnya sendiri, kuteguhkan hatiku, kutetapkan niatku, kembali ke kota kelahiran Bandung dan melanjutkan pendidikan Sekolah Menengah Pertama disana. Oh, betapa kurindu kota kelahiran, ketika elok pesona dalam balutan polusi terlihat begitu indah membalut dengan sebutan Kota Kembang.
Namun, aku kembali bukan tanpa luka di hati. Aku kembali ke kota kelahiranku dengan hati pilu terpaksa meninggalkan kedua orang tuaku. Ya, aku tidak mengerti betapa pedihnya momen itu, aku masih seorang bocah namun seiring waktu berjalan aku kian menyadari betapa kurindu kehadiran mereka di sekelilingku.
Di Bandung aku tumbuh menjadi pemuda yang cukup baik, dengan pendidikan baik-baik, teman baik-baik, lingkungan baik-baik, dan menjadi pemuda yang cukup diharapkan kebanyakan orang. Hehe.
Aku mengarungi samudera kehidupan di nahkodahi keteguhan, berawakkan pertemanan menuju kehidupan yang lebih baik. Perjalananku selama di kota ini adalah yang terbaik, harus kuakui aku bahkan berpikir takkan sanggup meninggalkan segenap memori yang dengan susah payah kuawetkan dalam sponge pikiranku. But, life must go on... and I should keep moving forward.
Kini kubuka lembaran baru dalam buku jurnal usangku, menanti kisah yang takkan terlupakan dari negeri yang disebut Asian Dragons. Dan proses pembentukan jati diriku pun terus berlanjut di negeri Singa.