yudi widyanto
palembang
terompet - terompet tahun baru belum ditiup sayangku berbahagialah dalam ketiadaan yang kita miliki sekarang
sajak - sajak kecil yang titulis para rabbi untuk memuja Tuhan, bagai kisah abadi yang pernah terukir di jabal rahma
kembaliah sayangku dari ada menjadi tiada dari terpisah menjadi satu, dalam doa yang belum habis kukecap di bibir
bilur hatimu sayangku, tapi siapa yang tak pernah terluka, aku mengayuh sepeda disiang hari dibawah bulan merah jambu
lalu apa yang belum kuucap padamu sayangku, akan kemanakah angin membawamu kali ini…
kembalilah dari ada ke tiada karna kita tak pernah ada, sentuhanmu bagai derai - derai cemara yang dihiasi sajak putih wajahmu
aku terjebak pada sajakmu yang putih seperti tembikar - tembikar berharap sinar matahari namun awan begitu gelap pada harinya yang lalu
sunyi hati kita dimakan waktu hingga subuh, semoga waktu menjebak kita berdua lagi agar kau mau bersandar dibahuku lagi
ada mata - sedih yang harus kita hadiahi tawa sayangku, ketika orang asing seperti aku bergerak bagai mainan di tangan anak kecil
maka langkahku dalam ketiadaan, segera menyulam batu menuang air dalam gelas candu, pagi ini masih ranum sayangku aku terpisah denganmu
aku terpisah denganmu terpisah dalam rasa yang tak sama, kau derai - derai cemara yang dihiasi saja putih wajahmu