Faizal Rahmat Nursaori

Student in Los Angeles, California

Read my blog

Kamu tidak harus menerima perpisahan ini. Bahkan kamu boleh berharap bahwa perpisahan ini tidak terjadi. Yang tak boleh kamu lakukan adalah memaksanya kembali. Ia sudah bahagia, dengan atau tanpa dirimu, toh ia baik baik saja.Benarkah kamu ingin kembali? Benarkah keinginanmu itu didasari oleh perasaan cinta? Jangan jangan ia hanya rasa iba atas kesalahan yang kamu buat. Jika kamu iba, betapa jahatnya kamu? Bukankah tiap tiap perasaan semestinya diberikan kesempatan untuk jujur? Lantas kamu merasa perlu memberinya iba, kembali untuk mencintainya atas dasar rasa kasihan.Tentu saja kamu merasakan kesepian. Tentu kamu merasa pedih. Merasa bahwa kamu telah membuat kesalahan yang demikian gawat. Tapi bukankah itu sudah terjadi? Ia sudah kamu lukai, lantas ia perlahan berdiri, perlahan mengobati hatinya sendiri. Ia kini sudah bisa menghadapi hidupnya sendiri tanpamu. Lalu apa hakmu untuk merusak itu semua?Kamu berharap bisa melupakannya. Kamu berharap bahwa ia akan memanggilmu kembali, menghubungimu, kalian baikan dan memulai segalanya dari awal lagi. Tapi kamu tahu itu mustahil. Tidak dengan segala kedunguan yang kamu perbuat. Tidak dengan segala kesalahan yang masih saja kamu ulangi. Kamu hampir tidak pernah belajar. Kamu masih saja menyakiti orang lain, menyakiti orang yang menyayangimu dan menyakiti dirimu sendiri. Kamu merasa hanya dengan menyakiti diri sendiri kamu akan terbebas dari rasa bersalah. Tapi perasaan bersalahmu selalu ada, ia selalu ada, akan selalu ada selama kamu belum memaafkan dirimu sendiri.Tuhan yang baik. Apa kabar?Aku masih baik baik saja Tuhan, masih menjadi manusia, masih memiliki nurani dan semoga saja masih bersetia padanya.Tentu Kau sudah tahu mengapa aku menulis ini, peristiwa ini sudah kau ketahui berabad lampau, jutaan tahun lalu ketika engkau belum mencipakan aku dan aku juga masih belum terpikir untuk diciptakan. Barangkali ini akan sangat membosankan bagiMu Tuhan. Mendengar rengekan rengekanku, seorang hamba yang lemah, mahluk dhaif yang entah kapan akan menjadi seorang manusia yang pintar… Aku lelah.Aku lelah jatuh cinta Tuhan. Aku lelah mencintai dan lebih dari apapun aku lelah untuk berharap. Aku sudah terlalu lelah untuk memelihara perasaan ini. Kau tahu Tuhan? Perasaan mencintai tapi kemudian merasa tidak berbalas. Memiliki cinta tapi tidak punya seseorang untuk dicintai. Tentu Kau tahu. Bukankah kau segala yang maha. Segala yang hebat. Aku tidak memintamu untuk mencabut perasaanku ini, aku hanya ingin memintamu mendengar sekali ini saja, entah untuk kau apakan aku ini setelahnya aku menurut.Aku mencintainya Tuhan dan aku ingin ia bahagia, sayangnya aku berpikir ia akan lebih bahagia tanpaku. Apakah aku egois Tuhan? Apakah aku egois jika aku tidak memperjuangkan perasaannya? Kebahagiaannya? Memperjuangkan ia seperti dulu ia berusaha menjaga hubungan kami agar tetap tegak, agar tetap ada dan agar tetap bisa bersama. Tapi bukankah seseorang mesti memilih Tuhan? Sesuatu kebahagiaan bagi yang di luar dirinya, seperti aku berharap agar ia bisa bahagia.Aku mencintainya Tuhan dan dalam kemaha tololanku aku membuatnya marah dan kami berpisah. Tapi siapa sih yang tidak tolol ketika ia dirundung nafsu, baik baik, ini bukan pembenaran Tuhan. Aku hanya ingin engkau tahu saja, jelas engkau sudah tahu, engkau Tuhan, engkau bahkan sudah tahu apa isi tulisan ini bahkan sebelum ia selesai dicatat, tapi aku mohon Tuhan, setidaknya biarkan aku selesai menulis ini, menuliskan perasaan-perasaanku yang sekian hari membuatku ingin mati, mati dengan cara konyol dan menyedihkan.Aku kesepian Tuhan. Aku ingin dicintai. Dicintai oleh ia kalau bisa, tapi aku sadar, bahkan untuk berharap saja aku tidak pantas. Bagaimana mungkin kau berharap dicintai setelah engkau berkhianat? Tapi ini bukan sekedar perasaanku saja Tuhan dan ini bukan soal kesepian, soal mencari jodoh. Tapi soal berlalu, belajar untuk merelakan. Perasaan ini Tuhan, perasaan yang kau berikan padaku? Menjadi platonik dan melankolis itu melelahkan Tuhan. Menyakitkan seolah olah apa yang kamu sisipkan padaku ini adalah belati dengan gerigi tajam yang menyayat kulit perlahan lahan untuk kemudian kau tarik hingga menghasilkan luka menganga.Inilah pertama kalinya diriku menangisi seseorang yang tidak memiliki apapun, Aku tidak menyalahkan siapapun, memang jalan cerita nya seperti ini bukan? Semua ini ketentuan dariMu kan? Terimakasih telah menghadirkan dia dalam hidupku yang singkat ini, walaupun aku hanya sebentar dengannya aku bahagia bersamanya 😊