Kukuh C Adi Putra
Dari aku . . pojok cahaya yang kian redup, pojok kekuatan yang tak kunjung meletup, melekat membahana mengenali sosok putra pribumi yang sayup - sayup tertutup. Tak pernah terfikirkan raga dan jiwa ini lahir bersama tangisan kekuatan maha dahsyat berkumandang di dunia ini.
My Chances
Sosok pria yang mungkin tak kalian kenali mencoba membaur dengan kerasnya kehidupan pendahulu. Menggebrakkah di awal perdananya? Tidak ! Tidak ! tak seorangpun mengenalinya, hanya tubuh kecil kulit hitam yang menjadi identitas kala dia menginjak tingkat dasar pendidikan. Berbekal kaki, betis, dan tumit yang kuat dia berlari mengejar hobinya yang menjadikannya popular saat itu.
Yaa . . sepakbola yang menjadikannya kuat secara fisik dan berhasilnya sosialisasi di awal karirnya. Teringat akan satu gelar yaitu "Kapten Tim" serasa tak kunjung ia percaya. dia bergumam . . akankah aku pantas dengan semua ini . . seakan hati ini ragu. seorang kapten tim dalam pandangannya adalah sosok panutan di dalam lapangan, lantas apakah dia sesuai dengan itu? lucu bila mengenagnya . . tak satupun gelar kompetisi diraihnya, hanya peluh keringat yang mengucur dalam kesehariannya. Namun dari situlah ia mulai memahami bahwa sebuah prestasi hanyalah sebuah bonus.
Senyum yang tulus , kenangan yang terpatri dalam upaya kerja keraslah yang merupakan harta tak ternilai di dalamnya. Sahabat - sahabat terbaik telah ia temui, sahabat yang senantiasa tulus mengenal dirinya yang saat itu tak punya apa - apa selain kaki, betis, dan tumit yang kuat yang disebutan tadi. Tak pernah ia membocorkan darimana hal itu. Hanya suatu argumen pemberian Tuhanlah yang menjadikannya alasan selama bertahun - tahun. Tak tahukah kalian darimana hasil kaki kotor nan kuat itu . . Yaa setiap pulang sekolah dia gayuh sepedanya sembari menunaikan tugas sehari - hari. . Penyortir sampah.
Lucu dan tak percaya saat itu upah yang diberikan berupa emas senilai Rp 500,00 ! nilai yang besar untuk remaja tingkat dasar saat itu. Susah senang dia lalui, sekadar menambah uang saku sehari - hari yang ia genggam. Tak seberapa, dan berbeda dengan kehidupan remaja setingkat dengannya saat itu. Berbeda 360 derajat. Selesai menyortir, ia menunaikan tugas selanjutnya. Yaa . . pukul 3 sore sangat terngiang suara nenek yang mewajibkannya mendalami ilmu agama di sebuah masjid terdekat.