Rezene Nahios-Sia Sigit
Saya, seorang perempuan kelahiran tahun 1969 tepat pada tanggal 10 Oktober di tahun itu tepatnya di negara yang sekarang terkenal dengan adi kuasanya, Amerika. Kami semua tinggal lama di Indonesia. Ayah keturunan Norwegia dan ibu saya Jawa Indonesia. Saat ini bekerja sebagai seorang wirausahawati dan memiliki seorang putri yang cantik, manis dan cerdas dan tinggal jauh di pulau seberang dengan mantan suami saya, ayah dari anak saya tersebut. Di kota inilah saya tinggal sendiri tanpa sanak keluarga yang menemani karena maklum saja ayah dan bunda sudah dipanggil yang kuasa sejak saya berada di bangku sekolah dasar, dari sejak itulah kehidupan bagaikan bola api yang panas tetapi harus dilewati, tinggal bersama paman dan bibi di Pulau Dewata membuat "Zene" panggilan saya, sudah sangat terbiasa dengan kehidupan pergaulan dengan orang-orang dari berbagai belahan dunia, yang seperti kita ketahui bersama, Pulau Dewata Bali sebagai salah satu tujuan wisata di dunia. Zene kecil tumbuh dewasa dan melanjutkan pendidikan ke kota lain, kota yang sekarang mendapat julukan "Keromantisan Indonesia", mengambil jurusan yang secara tidak langsung membuat saya memiliki banyak relasi. Singkat cerita di kota ini jualah saya bertemu dengan seorang pemuda dari kota "K", kami menjalani masa pacaran seperti kebanyakan muda mudi yang lainnya, dan berakhir pada sebuah ikrar suci janji pernikahan. Selama 3 tahun menjalani biduk rumah tangga, badai besar menerpa usaha keluarga yang selama ini dijalankan oleh keluarga mantan suami saya, hingga pada akhirnya masalah ini beranak pinak ke hal-hal lain yang membuat kami memutuskan untuk mengambil langkah perceraian, malang bagi saya untuk tidak mendapatkan hak asuh "Ica" anak semata wayang kami, dia tumbuh besar disana, berkarya dan sangat berprestasi. Kami terpisah sekian lama entah setan apa yang merasuki saya pada saat itu sehingga begitu dengan mudah melepaskan anak kandungnya sendiri, mungkin karena tidak bekerja dan sudah tidak mempunyai kerabat yang rasanya bisa untuk membantu, Ica kecil saya lepaskan untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Hingga akhirnya saya kembali ke kota ini dan menetap serta bekerja disini, alhamdullilah rezeki begitu luas saya dapatkan disini, sehingga hampir setiap waktu saya mencoba mempertanyakan dengan mantan suami saya, apakah saya bisa merawat anak kandung saya. Malang kembali menghampiri, keluarga yang membesarkan Ica tidak sudi begitu saja melepaskannya. Sekarang Ica tumbuh dewasa dengan seny