Rini Hastuti
Magelang
Nama adalah doa. Dan doa di balik nama itu, hanya Tuhan dan orang tua saya yang tahu. Saya bangga, walau banyak orang dengan nama yang sama. Rini Hastuti, Indonesia sekali bukan?
“Siapa kamu adalah apa yang kamu pikirkan”. Saya berpikir tentang sesosok mahasiswi beridealisme yang kuliah degan biaya sendiri, berjilbab anggun dan cantik, dengan penuh wibawa berdiri diatas mimbar kampus menerima penghargaan sebagai mahasiswa berprestasi. Berdiri di barisan paling depan menyuarakan aspirasi dan berjuang demi kemaslahatan umat. Yang kesengsaraan dan kemiskinan rakyat menjadi kegalauannya. Kejuaraan PIMNAS, dan segala pencapaian-pencapaian besar yang telah diraihnya. Tanpa kesombongan, dengan tepuk tangan dan ucapan selamat dari semua pihak, dinyatakan lulus dengan cumlaude. Setelah mendapatkan gelar sarjana, mendapatkan beasiswa S2 di Jepang. Semua orang mengenalnya dengan kebaikan dan segala prestasinya, menjadi kebanggaan keluarga dan bangsa. Ia yang berpengaruh, yang kedatangannya selalu ditunggu, yang namanya disebut dengan santun, dan pelayan yang anggun. Damai, rekah senyum istimewa yang diberikan dengan ikhlas pada semua yang ia temui. Berjiwa besar dan dermawan, yang bukan hanya memikirkan kehidupan pribadinya. Yang rela berkeringat demi sesama. Yang di cintai, dan di doakan kebaikannya oleh semua makhluk.
Sekarang saya sudah 20 tahun. Hidup adalah perjuangan. Hari esok didapat dari kerja keras dan semangat. Yang berhak hidup adalah ia yang tahu untuk apa ia hidup. Dan saya tahu untuk apa, meski jalan di depan terlihat samar. Dan tentang impian masa depan itu, akan saya perjuangkan. Sehingga di akhir perjuangan, semua orang bertepuk tangan dan saya mampu membuktikan kepada mereka yang dulu menyepelekan kemampuan saya, kepada mereka yang mencibir dan mengatakan bahwa saya akan jatuh, impian saya terlalu tinggi. Pada akhirnya nanti saya sadar betapa banyak hal yang telah saya lewati, betapa jauh saya melangkah. Dan dengan senyum bangga, saya dan mereka sadar betapa hebatnya saya.
Hidup hanya sekali, maka hidupilah hidupmu. Dan kehidupan yang sebenarnya adalah kehidupan setelah mati. Bagaimana orang-orang akan mengenangmu lantas menceritakanmu kepada anak dan cucunya kelak. Bagaimana kau menginspirasi orang lain. Bagaimana kamu di mata mereka. Bagaimana mereka kehilangan atas kepergianmu. Dan jika kamu hidup dengan benar, untuk apa takut pada kematian?
-Rini Hastuti, Seorang Pemuda Indonesia-