Rio Hidayat
12 Maret 1990 di kota tertua di Indonesia itu telah menjadi saksi kelahiran seorang anak yang gemuk, putih dan berambut lurus. Lalu diberilah nama Rio Hidayat, yang berarti Sungai Petunjuk (Tuhan) Rio adalah bahasa Portugis, dan Hidayat adalah bahasa Arab.
Kemudian anak ini berkembang dan tumbuh dalam paradoksnya, menjadi anak yang berkulit coklat, berambut keriting, dan kurus. Umurnya ke 16 telah mengantarkannya ke tanah Jawa untuk menuntut Ilmu, melanjutkan sekolahnya di tahun kedua di tahap menengah atas. Sekolah agama Ibrahim yang terpadu Nurul Fikri dipilih oleh Tuhannya untuk menjadi sekolahnya, bertempat di kota belimbing, kota muda di Jawa Barat. Sebelumnya, dia bersekolah tahap dasar di sekolah milik pemerintah yang bernama nomor 587, lalu berlanjut ke tahap menegah pertama di sekolah yang bernama nomor 53 dan di tahap menengah atas bernama nomor 16. Jangan tanya tentang sekolah dasarnya, karena sekolahnya itu tercatat sudah tiga kali berganti nama nomornya. Begitu juga sekolah tahap menengah pertama dan atasnya di kota tertua di Indonesia itu, tak akan kau temukan tempatnya kecuali di ujung hutan gambut. Lalu ide dan pandangannya sebagai anak muda telah mengantarkannya ke Universitas Padjadjaran, SUMEDANG, ya, bukan Bandung, karena memang kampusnya di Sumedang, entah konspirasi apa setiap orang yang bercerita tentang Unpad pasti bertolak dan berukur Bandung. Pemuda yang senantiasa meradang hatinya-karena belum menikah-ini mempunyai cita-cita menjadi orang yang berpengaruh dalam perkembangan musik bangsa, juga dalam hal pangan bagi manusia di Tanah Nusantara (walaupun belakangan dia lebih bercita-cita menjadi seorang penulis dan pemulia tanaman). Namun apalah daya ternyata teknologi pangan Pangan IPB terlalu tinggi baginya, sehingga ia harus melompat dengan jet, sementara dia hanya punya rancangan pesawat milik wright bersaudara, jadilah ia puas saja berkuliah di Pertanian Unpad, ’toh itu pula tak buruk’ celetuk hatinya.
Ketiga kakaknya telah berperan banyak membentuk dirinya, tidak peduli si bungsu gagal ini terlalu manja, kakak-kakaknya selalu mendidiknya dengan nasihat-nasihat dan contoh teladan yang baik. Kakak laki-lakinya tentang musik, kakak perempuan keduanya tentang studinya, dan kakaknya tertuanya telah menularinya dengan sastra. Begitu juga adik-adiknya, pemuda ini tak pernah menangisi kehadiran adik-adiknya, karena dia menjadi bungsu gagal, dia malah menikmati bercanda tawa riang dengan adik-adiknya setiap kepulanganny