Muhammad S. Roychansyah

Dipanggil Sani sesuai nama tengahnya atau sering menuliskannya menjadi MSR yang diambil dari huruf depan nama lengkapnya, dilahirkan di Jogjakarta 20 Mei 1971. Menghabiskan masa kecil sampai bekerja di kota pelajar itu pula. Bercita-cita sebagai insinyur pembangunan karena hobinya corat-coret sejak kecil, dan terujud setelah lulus dari Jurusan Arsitektur, UGM tahun 1995. Setelahnya, lebih menekuni jalur pendidikan, dan masih tercatat sebagai staf di almamaternya. Pernah “menjadi cantrik” di ETH Zurich, Swiss selama setahun, tetapi Master dan Doktornya diselesaikan di Tohoku University, Jepang. Master di Jurusan Teknik Sipil (Urban Engineering), 2002, dan doktor kembali ke habitat asal di Jurusan Arsitektur dan Perencanaan Kota (Architecture and Urbanism), 2005. Keduanya dengan topik mirip, kotak katik kota kompak dan performa lingkungan.

Setelah sempat tercatat sebagai periset posdok (JSPS postdoctoral research fellow) dan riset kolaborator di Department of Architecture dan Urban Planning, Tohoku University, di Kota Sendai, Jepang, untuk merampungkan riset lanjutan, maka tahun 2008 pulang kandang, kembali di JUTAP FT UGM. Sangat tertarik dengan isu sustainability, efficiency, dan environmental planning/design terutama pada tataran implementasinya dalam arsitektur kota secara mikro sampai meso dan dalam diskursus makro permasalahan kota secara umum. Tema-tema semacam pembangunan kota yang sensitif terhadap keberlanjutan kota maupun regenerasi pusat kota ini pula yang dilakukan ketika mendapatkan kesempatan riset di Italia dengan dana dari Erasmus Mundus.

Setelah lama berkutat dengan menggali pengalaman lewat data dan fenomena luar, saat ini lebih merefleksi dan mengkonstruksikannya untuk kasus yang lebih “mendarat”, di lingkungan sekitar. Saat ini, kehidupan keseharian kota, terutama kehidupan dan ujud kampung kota yang tersebar hampir di seluruh negeri memotivasinya untuk belajar lebih dalam pada objek ini. Yakin pada suatu saat, kampung tengah kota ini akan menjadi solusi masalah kota-kota di tanah air, melalui sebuah konsistensi kampung oriented development misalnya. Meskipun demikian, masih tetap termotivasi dan merasakan banyak belajar untuk minat dan ketertarikannya ini melalui kasus-kasus di Jepang dan beberapa negara yang dikunjunginya. Tinggal di tengah Kota Yogya