Tenthree Subowo

Saya perempuan dari keluarga multikultur. Lahir di Jogja, suatu tempat yang sangat saya rindukan, karena lama sejak saya meninggalkan tempat itu, saya belum pernah kembali kesana. Sejak meninggalkan Jogja, saya mencicipi banyak kota dan mulai beranjak dewasa di kota Bandung.

Saya terlahir sama dengan yang lain. Lengkap dan sempurna. Berakal dan memiliki nafsu. Akal sebagai kompas, dan nafsu sebagai motornya.

Sebagian orang bilang nama saya unik, sebagian yang lain bilang nama saya agak alay. Ten itu sepuluh, three itu tiga. Artinya, saya adalah cucu kesepuluh dan cucu ketiga. Ini unik atau alay? Ayah saya yang menamai saya dengan nama itu.

Sejak kecil senang menulis dan saat dewasa ini saya mencoba produktif dengan menulis, meskipun dengan kemampuan menulis yang masih jauh dibawah abal-abal. Saya menulis apa saja. Cerita anak, curhat di blog, mecoba membuat novel dan nge-tweet (?)

Hobi potografi mulai sejak pertama kali memegang kamera. Berkumpul dengan sesama pecinta potografi di kampus, tapi kemampuan potografi juga tak lebih dari selca poto dari kamera handphone. Masih sangat kacangan tapi sangat berminat dan ingin belajar banyak.

Berminat pula pada dunia kuliner. Mungkin karena sering melihat Ibu saya sibuk di dapur atau menonton acara demo masak di televisi. Menciptakan resep-resep gagal yang ujung-ujungnya dimakan juga karena lapar.

Saya seorang daydreamer sejati, dalam belalak mata saya berkhayal dan pejaman matapun berkhayal. Sebagian masuk dalam wishes list, tapi sebagian besar lagi jadi dongeng pengantar tidur.

Duduk manis di dunia psikologi tapi tidak berniat menjadi psikolog. Saya ingin mencoba dunia yang lain sebagai jalan karir saya. Bukan tidak mencintai psikologi, tapi justru psikologi yang menggerakkan saya untuk bebas bergerak menentukan perjalanan saya yang sebentar ini. Dalam sebuah misi meng-ada-kan diri saya dalam belantara dunia ini, untuk mengemban tanggung jawab sebagai manusia yang seutuhnya.

Saya bukan orang serius, karena tidak bisa serius. Bukan si cantik, dan juga bukan si jenius. Saya hanya sedang belajar menjadi orang luar biasa dengan cara saya sendiri. Bukan dengan prestasi yang prestise tapi dengan menjadi merdeka dan bahagia bagi diri saya sendiri.