Urab Minor

Bandung, west-java

Saya tak bisa berhenti dari kegelisahan, hari demi hari saya melalui rasa gelisah dari orang2 sekitar.saya merasa seperti batu yang berada di dalam genangan lumpuur, saya mencoba menyiramnya dengan air namun saya terjebloskembali ke dalam lumpur dan kotor lagi dengan lumpur dan terus menerus, di genangan lumpur itu si batu jarang sekali menemukan batuatau teman sesamanya, ya genangan lumpur seperti itulah, jika kita masuk ke dalamnya kita menjadi seperi lumpur pula, tapi batu mungkin tidak akan dia akan tetap keras walaupun tertutupi lumpur dia akan mencari batu lagi yang sepaham dengan diawalaupun sangat sulit di dalam genangan lumpur tersebut. Ya klau di kehidupan seperti itulah saya. Orang terdoktrin modernitas banyak sekali menjadi seperti hedonis, egois, binih2 dari para orang kapitalis.humanisme untuk sesama dari mereka adalah kepuasan menjadikan mereka seperti anjing2 yang berlari mengejar daging, sedangkankita kucing belum kebagian asin. pembantaian secara global yang semakin hari menggerogoti otak-otak mereka, tak merekasadari mereka hanya sedang asik menikmatinya. sedangkan pembantaian yang secara hati nurani seperti mereka2 yang di jalan, seorang ayah yang mencari susu buat anaknya, orang terkucil orang kecil, para petani tak kebagian beras karna berasnya habisdi kirim ke kota, pelacur yang murung, dan mereka yang memperjuangkan hak mereka sebagai manusia yang hidup di negarayang katanya adil bagi seluruh rakyatnya tak mereka dapat kan. Mungkin jatah mereka habis dimakan orang-orang yang sedangduduk manis di dalam gedung negara sambil tertawa di balik konspirasi busuk mereka. sungguh ironis! Dan saya masih berada di dalam genangan lumpur tersebut, terus saya mencari batu, jarang sekali menemukan batu2 itukarna karna batu hanya sekumpulan orang minoritas yang berasal dari sekumpulan mayoritas.

  • Work
    • tidak bekerja pada siapa-siapa
  • Education
    • visual comunication design, jungle explorer