Yustiansyah Lesmana
Art Director, Artist, and Director in Jakarta
Yustiansyah Lesmana
Art Director, Artist, and Director in Jakarta
Yustiansyah Lesmana adalah sutradara, perancang program, dan kurator seni pertunjukan berbasis di Jakarta. Praktiknya berangkat dari kerja kolaboratif lintas disiplin, wilayah, media, dan generasi, dengan perhatian khusus pada hubungan antara sejarah, arsip, dan imajinasi masa depan sosial. Ia menempatkan pertunjukan sebagai ruang untuk membaca ulang ingatan yang terputus, menegosiasikan narasi resmi, serta mengaktifkan pengetahuan yang kerap tersingkir dari sejarah dominan.
Berkarya bersama Teater Ghanta sebagai platform kolaborasi terbuka, Yustiansyah terlibat dalam berbagai ekosistem pertukaran artistik regional dan internasional, termasuk Majelis Dramaturgi, Asia Performing Arts Forum (APAF), Perkumpulan Nasional Teater Indonesia, dan kolektif TERASIA. Selain kerja penyutradaraan, ia aktif mengembangkan kerangka kuratorial dan programatik yang memandang seni pertunjukan sebagai praktik riset, arsip hidup, dan kerja kultural berjangka panjang. Saat ini ia menjabat sebagai Direktur Artistik Djakarta International Theatre Platform dan Ketua Komisi Arsip dan Koleksi Dewan Kesenian Jakarta.
English below
Yustiansyah Lesmana is a director, program designer, and performing arts curator based in Jakarta. His practice is grounded in collaborative work across disciplines, regions, media, and generations, with a particular focus on the relationship between history, archives, and the imagination of social futures. He approaches performance as a space for rereading fragmented memories, negotiating official narratives, and activating forms of knowledge often marginalized within dominant histories.
Working closely with Teater Ghanta as an open collaborative platform, Yustiansyah has been involved in various regional and international artistic exchange ecosystems, including Majelis Dramaturgi, the Asia Performing Arts Forum (APAF), the Indonesian National Theatre Association, and the TERASIA collective. Beyond his work as a director, he actively develops curatorial and programmatic frameworks that position performing arts as a form of research, a living archive, and a long-term cultural practice. He currently serves as Artistic Director of the Djakarta International Theatre Platform and Chair of the Archives and Collections Commission of the Jakarta Arts Council.